Senin, 02 Mei 2011

Emak


Emak, apakah kau masih setia dengan bapak?
Dan sudahkah kau belikan sepetu untu surti?
Dia ingin sekali sepatu yang bebas dari angin dan air yang telanjang di jalan
Bapak juga ingin kau mengenangnya mak.

Emak, seandainya dulu aku hanya lulusan SD
Lebih baik aku tinggal di desa
Bersama mu dan surti
Sambil mengenang dukun yang membuahimu menjadi aku
Yang belum sempat ku sebut bapak

Emak, sekarang aku di sini karna mu
Karna keringatmu yang mengucur membiayaiku
Sekarang aku jadi orang hebat mak
Yang bisa menonton bioskop film perang dikotaku

Emak, apakah kau masih ingat denganku?
Anakmu yang dulu lusuh
Yang kau ajak ke sawah menuai peluh

Emak ini aku anakmu
Yang sudah jadi orang kaya
Yang bisa menjelajah setiap jengkal tubuh pertiwi
Dan bisa menik mati kursi tertinggi

Emak, aku benar-benar ingin memelukmu
Kembali ke sawah dan mengusap peluhmu
Menggantikan kerjamu
Sembari merajut senyum untukmu

Emak, aku ini anakmu yang dulu
Tapi kenapa kau tak merinduku
Bahkan tak mengingatku

Emak, beras sudah kumahalkan
Agar kau bisa jual hasil panen dengan senyum
Tak perlu lagi merayu tetangga
Dan menjadi tabungan tukang sayur

Emak, aku kirimkan sebuah surat dan uang untukmu
Tapi yang ku terima berita kematianmu
Kau bunuh diri karna tak kuat membeli sembako
Emak, aku ingin memelukmu.

2011

(foto oleh Halim Bahris)

Apakah Seseorang Tidak Boleh Mempunyai Karakter Dalam Menulis?


“Cukup” itu menurut saya ketika saya membaca tulisan saya sendiri, tapi beberapa orang mengganggap tulisan saya masih belum bisa diterima dalam konteks jenis-jenis tulisan ketika saya memasuki ranah yang lebih yaitu: ke dalam perkuliahan dan dunia jurnalistik kampus. Entah itu puisi, cerpen atau beberapa tulisan yang menurut saya sendiri belum bisa saya mengerti. Seorang teman atau yang biasanya saya panggil “mas”(kakak) karena memang dia lebih tua daripada saya pernah berkomentar dengan tawa bengisnya “awakmu nulis kanggo arek SD, SMA opo TK?”(kamu menulis buat anak SD, SMA, atau TK?) ketika saya menyodorkan satu puisi yang baru saja saya buat malam itu. Saya tak tahu apa puisi itu mengarahkan dia ke alam anak-anak atau apa? Saya hanya menulis semampu saya dan dari apa yang saya pelajari setiap saya mendengar orang-orang (para jurnalis yang saya kenal di Jember) berbicara dan beberapa buku yang sempat saya nikmati sebelum singgah di Jember . Tapi apa tanggapan mereka? Nyleneh(menyimpang) menurut mereka tentang tulisan saya. Apa seseorang harus bisa menulis dengan bagus agar mereka diterima? Apa harus bisa menceritakan beberapa isi buku saat ngopi? Atau seseorang harus selalu terpaku pada tulisan orang-orang yang sudah berpengalaman dan terkenal?, sebut saja Puthut .T.A dan masih banyak sederetan yang lain. Ah, tak tahulah. Saya hanya anak kecil yang masih belajar beberapa keinginan yang ada dalam benak seorang anak ingusan. Saya memang kenal dengan beberapa orang di sini; Fakultas Sastra Universitas Jember khususnya dan beberapa mahasiswa Fakultas lain di Universitas Jember umumnya. Tapi saya merasa seperti asing di sini.
Saya adalah seorang mahasiswa baru yang seaakan baru masuk “penjara”, tapi sebaiknya jangan disebut penjara mungkin kata ikatan lebih bagus. Yang saya bingung apakah saya harus lepas dari ikatan itu atau saya harus  selalu terikat? Saya tidak mau didikte, saya punya karakter sandiri walaupun itu mereka sebut nyeleneh atau apa, saya hanya berusaha jadi “saya yang benar-benar saya” tanpa ada embel-embel apapun, tenpa ada aturan yang mengikat dan tanpa ada yang menyetir saya, tapi andai saya melepaskan ikatan itu saya akan retak karena tak ada lagi teman yang menyambut di luar ikatan itu, tapi saat saya harus berada dalam ikatan itu saya merasa selalu tidak diterima, mungkin mereka selalu menyuguhkan senyuman untuk saya, tapi di samping itu saya jelas melihat penolakan di balik senyum kecut mereka . Saya hanya bisa bertanya saat ini, apakah seseorang tidak boleh memiliki karakter dalam tulisannya atau seseorang harus menurut untuk disetir para seniornya? Memang seseorang harus banyak membaca dan mencari berbagai sumber referensi, tapi semua orang berbeda, ada orang yang hanya bisa menerima referensi dari buku dan fakta-fakta yang mereka lihat tanpa percaya sumber dari dunia maya yang belum jelas faktanya, ada juga orang yang membandingkan fakta dari beberapa sumber yang mereka dapat. Apakah saya harus sama dengan yang kalian inginkan? Sebuah judul cerpen saya saja mereka anggap tabu, padahal mereka belum membaca isinya, bahkan mengulang kata pun salah menurut mereka. “Pengulanganmu tak penting,” kata seorang “mas” yang lain dengan wajah agak mengejek. Padahal tidak sembarang orang yang memakai pengulangan kata atau repetisi. Orang sholat saja menyebut 6  kali kata “Allahuakbar”disetiap rokaat dan Djenar Mahesa Ayu pun memakai banyak repetisi dikumpulan cerpen miliknya yang berjudul “jangan main-main (dengan kelaminmu)” . Banyak sekali tanya yang saya simpan, seandainya saya bisa mencari beberapa sumber lagi saya akan menjawab semua pertanyaan itu. Tapi sumber yang mungkin bisa menjawabnya malah pergi entah kemana?
Den sekarang saya merasa benar benar terasingkan di sini, di jember tepatnya.

Nama; Sebagai Identitas atau Pembunuh Identitas

Nama adalah salah satu identitas bagi seseorang. Nama juga dapat membunuh identitas seseorang, lalu bagaimana nama sanggup membunuh identitas seseorang? Mungkin itu yang akan saya bahas di sini. Jarang sekali orang-orang menganggap nama sebagai status terpenting dalam bersosialisasi, nama di sini merujuk kedalam tingkatan strata sosial, sebut saja saya sebagai mahasiswa sastra yang belum dikenal banyak orang dibandingkan dengan dengan mahasiswa lain yang sudah mempunyai 'nama' di kalangan mahasiswa, tingkatan antara saya dan mahasiswa yang mempunyai 'nama' itu pun berbeda. Tapi sepertinya orang-orang menganggap itu sebagai hal yang lumrah, seandainya mereka tahu bahwa nama juga bisa membuat kita 'mati' tentu mereka akan berubah pikiran.
Seperti halnya saat W.S. Rendra membacakan puisi dengan gaya khasnya, duduk sambil memainkan tangan dan mukanya, itu sudah dianggap bagus oleh kebanyakan orang, tentu karena Rendra sudah mempunyai 'nama', tapi bila saya yang melakukannya -membaca puisi seperti rendra- rasanya tak ada yang terpikat bahkan kadang cemoohan yang keluar dari mulut mereka -orang-orang-. Saya sempat juga mengumpat "Apa bedanya ketika saya melakukan hal yang sama dengan orang yang sudah terkenal?" Setelah berkata seperti itu saya mulai berpikir bahwa 'nama' dapat membunuh atau mematikan karakter seseorang.
Tak seperti 'mati' yang cecep syamsul hadi deskripsikan dalam cerpennya yang berjudul saya tahu saya akan mati di laut, di situ cecep mencoba menjadikan kata 'mati' sebagai sesuatu yang lumrah dan menyenangkan, bahkan sang tokoh dengan santainya menjawab "semua orang akan mati kan" Ketika ada seseorang perempuan dengan mata bolong menyampaikan pesan bahwa dia akan mati tak wajar, tapi pada akhirnya sang tokoh tidak mati dan sadar dia sedang melakukan perjalanan di kapal dengan wanita cantik yang baru dia kenal di kapal itu. Saya merasa terpinggirkan oleh nama-nama yang dianggap kebanyakan orang tenar, kepercayaan diri hilang ketika menghadapi orang-orang bernama itu, tapi lebih lagi ketika saya termakan oleh omongan saya sendiri yang selalu dianggap salah dan mereka sepertinya lebih percaya kepada orang yang punya 'nama', tanpa sadar saya runtuh dan menangis tanpa airmata sambil mengais rasa malu yang tercecer dimana-mana, mungkIn rasa malu saya mengalahkan rasa malu Presiden Negara kita yang dipermalukan karena mengeluh dengan gajinya.
Di masa kecil kita pernah melewati tingkatan perkembangan yang dinamakan imitasi, tahapan itu dimulai saat anak-anak mengubah tingkah lakunya dengan meniru pergaulan di sekitarnnya bahkan tokoh idolanya, tapi proses ini tidak akan ikut berkembang ketika kita menirukan orang yang terkenal dalam masyarakat. Masyarakat akan mengatai kita dengan julukan plagiat ataupun epigon, karena yang mereka kenal adalah orang yang sudah terkenal dan mempunyai 'nama', bukan kita sebagai peniru, contohnya saja ketika grup musik d'massive meniru musik grup band asal luar negeri muse, fans mereka tidak mempermasalahkan itu, tapi seandainya kita atau saya yang meniru pasti banyak sekali gunjingan, karena saya belum punya 'nama' seperti grup band d'massive, seperti halnya Chairil Anwar yang menerjemahkan "The Young Dead Soldiers" Menjadi "Karawang Bekasi" Dan "a Song of the Sea" Menjadi "Datang Dara Hilang Dara"., Tentu ada beberapa masalah yang muncul tapi Chairil tak dapat julukan penyair plagiat, karena Chairil didukung oleh H.B. Jasin.dan akhirnya chairil menjadi pelopor sastra angkatan 45 di indonesia tentunya.
Ijinkan saya mengutip sedikit puisi terjemahan Chairil. Ini adalah satu bait puisi "a Song of the Sea" :
A SONG OF THE SEA
I
“Girl, girl alone,
Why do you wander
The twilight shore?
Girl, go home, girl!”
“No, I won’t go!
Let the evening wind blow
On the sands, in the glow.
My hair is combed bay the winds,
As I wander to and fro.”

Dan diterjemahkan Chairil menjadi "Datang Dara Hilang Dara" :
DATANG DARA, HILANG DARA
“Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”
“Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”
Chairil Anwar dan karyanya pun selalu diingat sampai sekarang bahkan karya terjemahannya.
Nama sebagai pembunuh rasa bisa disebut seperti itu, ketika kita kalah dengan orang-orang yang mempunyai nama besar di suatu tempat. Dan sekali lagi saya mengutip salah stu puisi dari buku "Kisah-Kisah Dari Tanah di Bawah Pelangi", yang berjudul "Sengketa Mayapada" karya indrian koto "Betapa berat mengangkat nasib yang sudah diketahui keburukannya." Mungkin seperti itu ketika kita sudah merasakan bagaimana 'nama' menjadi momok yang bisa mematikan rasa  dan semangat kita
Tentunya kita sebagai orang yang mempunyai nama tak mau menjadi sasaran dari nama orang lain, lalu bagaimana kita melakukannya? Mungkin dengan menciptakan karakter atau percaya pada diri sendiri adalah kunci untuk menghindari 'nama' sebagai pembunuh identitas, rasa dan semangat kita.[]