Sebelum mentari pagi ini menorehkan luka pada mu malam. Sejenak aku ingin lunglai dan lemas, karna kau yang begitu manja dengan pekat mu yang berhiaskan gemerlap senyum bintang, karna kau membuatku tertawa dalam dinding-dinding waktu mu. Malam yang sembab tak semenyeramkan yang mereka bayangkan, malam yang sembab begitu manis dangan senyumnya yang lugu memeluk bulan yang lindap, bagai anak kecil dengan mata berbinar lekat menggemaskan. Malam, Bulan, dan Bintang. Mungkin aku bisa ada dalam barisan senyum kalian? Menikmati hitam pucat yang begitu lekat dengan kensunyian yang mendamaikan. Maka malam, tolong bawa aku dalam cahaya pucat mu yang paling ku rindu.
Rabu, 25 Januari 2012
Selasa, 17 Januari 2012
Kita Pernah Berbicara Tentang Cinta
Kita berdua pernah berbicara tentang cinta
Cinta yang lebih dari sebuah kisah
Tentang dua orang yang merasakannya
Cinta yang begitu mesra
Bagaikan angin yang mejadi badai
Badai asmara yang begitu hebat
Kita memang remaja yang sedang di rasuki asmara
Tapi aku tak mau merumuskan cinta
Aku hanya ingin menyatakan dan mengalaminya
Karna kita tidak hanya bercinta
Tetapi kita menciptakannya bersama
Disela-sela hati kita
Sementara itu, aku selalu ingat ketika hujan dulu
Kita bergurau di bawah rintiknya
Tak perduli raga kita akan basah
Kau memelukku lantas kau mengucap;
"Kita tak perlu mengucap kata cinta, karna cinta ada di hati kita"
Akupun menjawab;
"Tentu, karena cinta adalah sebuah sesuatu yang paling kecil, tapi selalu indah bagi kita berdua"
Sembari ku usap wajahmu
Dari air hujan yang tak akan pernah melunturkan kecantikanmu
Lalu, seperti daun yang diterpa hujan
Kita berdua terjatuh dalam sebuah danau
Danau yang berwarna cinta
Tapi ada saat kita dipaksa selalu menunggu
Walaupun menunggu adalah bagian dari sebuah pertemuan
Namun menunggu tetaplah menunggu
Kita menunggu karna jarak
Jarak adalah waktu yang tak pernah tercatat
Jarak yang menciptakan sebuah rindu
Tapi kita juga pernah berbincang dalam sebuah rindu
Berbincang tentang hidup kita kelak
Berbincang dalam danau berwarna cinta kita
Kita berbincang tentang sebuah rumah kecil ditepi sungai yang terpencil
Sungai itu mengalir dengan tenang bagaikan kehidupan kita
Dan hamparan padang rumput yang hijau tersaji dihadapan kita
Kita berbincang tentang sebungkus nasi yang akan kita makan berdua
Serta kesederhanaan yang akan menggenggam hidup kita
Dan kau tak pernah mengeluhkan itu
Kau selalu tersenyum ketika kita berbincang
Tentang kesederhanaan yang akan kuberikan padamu
Karena kau berkata yang penting adalah cintaku padamu
Tapi cinta dalam hidupku ada pada urutan kedua
Karena yang pertama dalam hidupku
Adalah keselamatanmu sayang
Kita berdua pernah berbicara tentang cinta
Cinta yang tak pernah kita ucapkan
Tapi selalu kita rasakan dalam denyut kehidupan.
Duka Yang Dalam Pada Bulan Januari
Masih ingatkah kita apa yang terjadi pada tanggal 15 Januari tahun 1974 di Indonesia dulu ? Sebuah peristiwa yang akhirnya dinamai “Peristiwa Malari”, peristiwa yang sedikit demi sedikit hilang dengan kematian Presiden Soeharto.
Peristiwa yang mengakibatkan Jakarta diselimuti asap itu berawal ketika ada kunjungan dari Perdana Mentri jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta untuk empat hari, dari tanggal 14 sampai 17 Januari 1974. Kedatangan Tanaka yang dianggap oleh mahasiswa sebagai simbol modal asing yang harus dihilangkan itu mengundang aksi demonstrasi mahasiswa. Para mahasiswa menyambut kedatangan Tanaka dengan berdemonstrasi di bandara Halim Perdanakusuma, tapi aksi demonstrasi itu dijaga ketat sehingga para mahasiswa tidak bisa masuk ke pangkalan udara.
Setelah tidak berhasil menerobos bandara Halim Perdanakusuma, para mahasiswa kembali menggelar aksi long march dari salemba menuju Universitas Trisakti di Grogol, Jakarta Barat pada tanggal 15 Januari 1974. Aksi long march itu mengusung tiga tuntutan, yaitu: pemberantasan korupsi; perubahan kebijakan ekonomi mengenai modal asing; dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden.
Tapi sayangnya aksi ini kemudian berubah menjadi sebuah kerusuhan. Massa yang mengaku dari kalangan buruh menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka melakukan aksi penjarahan serta membaka mobil-mobil buatan Jepang.
Tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak atau dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan, setelah peristiwa itu. Peristiwa yang tidak ketemu jluntrungannya ini tidak diungkap oleh media pada saat itu, karena kebijakan media ada di tangan Presiden Soeharto.
Sebagian besar korban peristiwa itu adalah mahasiswa, karena mahasiswa yang melakukan aksi pada saat itu dianggap melanggar Undang-Undang Antisubversi, tapi akhirnya mereka dibebaskan karena di pengadilan mereka tidak terbukti melakukan pelanggaran. Dan setelah itu Undang-Undang Antisubversi menuai banyak kecaman dari berbagai pihak.
Masih ingatkah kita pada peristiwa yang menjadi tonggak sejarah kekerasan Orde Baru itu pada tahun 2012 ini ? Apakah kita akan tetap memperingati tahun baru yang hanya berisi kesenagan belaka daripada hari dimana sebagian kecil masyarakat Indonesia hilang pada bulan Januari ?
Semoga kita tetap merasakan duka yang mendalam di bulan Januari daripada merayakan tahun baru yang tidak akan membebaskan Indonesia dari hutang luar negerinya.
Referensi: Jejak Soeharto : Peristiwa Malari “The Shadow of an Unseen Hand”
Foto: Google.com
Langganan:
Postingan (Atom)



