Minggu, 14 Oktober 2012

Minum

“Kamu sakit gara-gara kebanyakan ‘minum’ Dam, masa setiap malam kamu ‘minum’ terus. Apa ndak ada niatan buat berhenti minum?”

Yah itulah yang dikatakan teman saya ketika menjenguk saya yang tergeletak lunglai di kamar kontrakan. Saya hanya menjawabnya dengan senyuman yang benar-benar tulus dan dibalas lagi olehnya degan muka kecut, mungkin dia sadar bahwa saya sulit sekali untuk berubah hanya dengan nasehat-nasehat serupa wahyu Tuhan kepada para nabinya.

Dua hari sebelum saya benar-benar sakit, tubuh saya memang sudah mengisyaratkan agar saya beristirahat, tapi masih banyak keperluan yang harus saya selesaikan dan itu membuat saya sulit menyisakan waktu sekedar hanya untuk istirahat. Beberapa rapat, diskusi, dan obrolan-obrolan warung kopi yang sulit untuk ditinggalkan membuat saya mondar mandir setiap hari.

Dan apa yang dikatakan teman saya tentang ‘minum’, hampir setiap malam saya diajak oleh teman-teman untuk melakukan kegiatan yang memunculkan keakraban dan persaudaraan itu. saya tidak pernah berniatan ‘minum’ untuk membuat saya mabuk dan melupakan semua masalah, hanya orang-orang yang kalah yang akan melakukan itu. ‘minum’ saya menganggapnya sebagai ritual yang sangat sakral, ritual yang akan memunculkan suasana kekeluargaan pada setiap botol dan setiap gelasnya.

Barangkali apa yang ada pada pikiran beberapa orang tentang ‘minum’ adalah kegiatan yang menjijikkan, kegiatan anak-anak nakal dan kegiatan yang tidak boleh dilakukan. Tapi saya tak mengamini itu, karena pada setiap tenggakan minuman itu ada sosok Tuhan yang selalu menyertai. Tuhan menciptakan banyak cara untuk membuat umatnya terpecah dan bersatu, dan saya menganggap kegiatan ‘minum’ adalah salah satu cara Tuhan untuk membuat umatnya bersatu.

Suatu malam, pada botol anggur saya dan teman saya menemukan suasana yang benar-benar akrab, bahkan kami bisa saling memberikan solusi untuk mengurangi beban yang kami tanggung. Dan saya ingat, salah satu teman saya benar-benar terinspirasi oleh sebotol beer, setiap harinya dipenuhi dengan botol beer. Dia mengatakan “Saya melihat wajahnya dalam sebotol beer.”. Setiap orang dengan pemikiran yang berbeda tentunya juga berbeda ketika melihat sebotol minuman.

Saya sempat ingin berhenti ketika saya menemukan kepercayaan pada diri seseorang yang berhasil memikat saya, tapi dia begitu saja hilang dengan alasan yang tak jelas dan akhirnya keinginan itu sedikit demi sedikit luntur. Dan apa yang dikatakan teman saya bahwa ‘minum’ adalah penyebab saya sakit bukan alasan yang tepat untuk membuat saya berhenti ‘minum’. Sutardji muda tidak akan bisa membaca puisi jika tak ada sebotol beer di sampingnya, begitu pula Rendra muda, dia sangat suka ‘minum’.

Di sini saya tak bermaksud untuk mengajak ‘minum’, tapi saya hanya mengutarakan kenapa saya ‘minum’ dan saya tidak bisa menghentikan kegiatan yang begitu menyenangkan itu. Oke, saya rasa tulisan ini bisa diakhiri walaupun masih banyak lagi yang bisa diceritakan tentang ‘minum’, karena sudah ada sebotol anggur di depan saya yang siap mengantarkan saya pada suasana kebersamaan yang sangat indah.[]

Minggu, 09 September 2012

Suka Mendayu-Dayu*

Barangkali efek rumah kaca benar dengan lagunya yang berjudu di udara saat rezim soeharto dulu, tapi keadaan sekarang berbeda, semua bebas menyerukan pendapat tanpa dihadapkan kepada teror dan ancaman yang lainnya, tapi kebebasan itu sepertinya hanya sia-sia karena pemerintah sekarang hanya menampungnya dan sepertinya sulit untuk merealisasikannya.
Efek rumah kaca mungkin ingin menyegarkan kembali pikiran pemerintahan sekarang dengan lagu-lagu mereka. Efek rumah kaca adalah band indie yang sudah atau mungkin sedikit terkenal di kalangan remaja. Band yang digawangi oleh cholil mahmud dan kawan-kawan ini memang sudah lama terbentuk, tapi sepertinya mereka kurang digandrungi oleh remaja zaman sekarang karena lirik lagu mereka yang kurang mendayu-dayu seperti yng diinginkan remaja jaman sekarang
Aku sering di ancam juga teror mencekam\\Kerap ku di singkirkan sampai di mana kapan\\Ku bisa tenggelam di lautan aku bisa di racun di udara aku bisa terbunuh di trotoar jalan\\Tapi aku tak pernah mati tak akan berhenti
Kurang lebih seperti itulah lirik lagu di udara karya efek rumah kaca. Band-band indie yang mendendangan lagu seperti ERK agaknya sulit dinikmati oleh orang-orang jaman sekarang khususnya remaja jaman sekarang yang menginginkan lagu yang mendayu-dayu tentang cinta, yang mendendangkan perselingkuhan dan masalah cinta lainnya.
Mungkin remaja jaman sekarang hanya menyukai lagu-lagu cinta yang membuat kuping geli bila mendengarnya. Bagaimana tidak geli bila mendengarkan lagu-lagu band jaman sekarang ini yang menceritakan bahwa selingkuh itu indah dan begini dan begitu. Tidak bermaksud menghakimi band-band yang mendendangkan lagu perselingkuhan, tapi sepertinya remaja zaman sekarang seperti tersihir dengan cerita yang tidak patut ditiru dalam bungkusan nada-nada yang mendayu-dayu. Dan yang membuatnya menjadi aneh adalah remaja zaman sekarang mengatakan bahwa lagu itu sama seperti nasib mereka.
Sebagian remaja yang mengatakan bahwa lagu itu sama seperti nasib mereka itu mungkin salah, yang bisa diterima nalar mungkin sebaliknya, bahwa mereka yang terpengaruh oleh lagu itu. Yang dicari remaja sekarang bukan lagi lagu yang membawa misi kebebasan tapi lagu yang membawa misi bahwa selingkuh tiu menyenangkan dan bercinta adalah segala-galanya di dunia ini.
Band-band yang membawakan lagu perselingkuhan dan percintaan ini memang berhasil menggedor pagar permusikan indonesia, tapi mereka tidak menengok apa akibat dari lirik-lirik lagu mereka terhadap pendengarnya, apalagi terhadap remaja yang masih labil pemikirannya. Remaja-remaja itu mungkin saja bisa menirukan lirik lagu perselingkuhan itu dengan bangganya, padahal dia tahu bahwa hal itu bisa di sebut “nakal”, tapi karena lagu yang mereka dengarka dan mereka tiru adalah lagu band yang sedang digandrungi saat ini, mereka mungkin tidak memikirkan apakah efeknya untuk mereka.
Zaman mungkin memang mempengaruhi selera para remaja, tapi apakah zaman juga telah mengubah jalan pikiran mereka? Mungkin memang iya, karena dalam kehidupan remaja sekarang permasalahan cinta ada dalam peringkat paling atas. Seperti halnya lagu cinta yang menduduki peringkat paling atas dalam deretan lagu paling disukai remaja.
Sementara remaja sedang sibuk dengan lagu-lagu mendayu yang mereka sukai, di belakang mereka pasar siap menerkam mereka dengan produk-produk lain yang kurang lebih akan merebut setengah hati mereka. Pasar memang tak pernah kekurangan cara untuk memikat konsumen mereka, label musik pun termasuk di dalamnya.
Barangkali efek rumah kaca, marjinal, dan the upstairs benar dengan mempertahankan ideologi mereka, karena mereka akan tetap hidup dalam ideologi mereka walaupun pasar kurang menerima lagu-lagu mereka. Tapi mereka mungkin telah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka tetap mempertahankan ideologi mereka, maka mereka berani mempertahankan tanpa menoleh ke belakang.
Di saat para remaja asik mendengarkan lagu yang menyihir mereka, indonesia sedang dirasuki bencana.



*Tulisan ini dimuat di rubrik Horizon, Radar Surabaya Minggu 5 Agustus 2012

Minggu, 26 Agustus 2012

Kenangan


Pada sepi yang tak kunjung reda
Kita mencipta cumbu di pojok kelas
Mengemas kenangan rapat-rapat dalam ingatan
Lantas membawanya pulang sebagai suatu senyuman

Pada bab kehidupan selanjutnya
Kita harus bertarung dengan kepulangan dan kepergian
Dan kenangan tentang cumbu
Masih membeku pada tiap marka jalan
Yang kita eja sebagai garis nasib

Pada sepi yang setiap hari mampir
Dalam ingatan tentang senyuman
Kita saling menatap pada bintang yang sendirian
Berharap kenangan tak segera menguap

Lalu ketika kita siap membuka masa lalu
Pada setiap kepulangan dan pertemuan
Kita tak lagi menemukan sisa cumbu di pojokan kelas
Semua rata, hancur bersama sekolahan dimana kita mencipta kenangan