Ketika sunyi siap menepi dalam tangis
yang hampir usai, kau serupa sauh yang tak hendak diangkat
Lalu waktu membatu di sekitarmu menepis
fajar yang hendak menampakkan senyum keemasannya.
Kita tak pernah benar-benar menjadi tua
kawan, kita juga tak penah benar-benar akan mati
Yang terlalui hanyalah semua yang hanya
akan menjadi masa lalu, dan kita akan tetap hidup pada masa lalu.
Hidup sebagai kenangan yang tak pernah
tidur dan tak pernah bangun, bagai mendung yang menyimpan hujan.
Menangislah, dan buang semua airmata itu
lalu kita kemas semua kenangan dan masa lalu
Dan bersiaplah untuk melangkahkan kaki
kita pada bab kehidupan yang lain, yang lebih kejam dari padang kurusetra dan
lebih luas dari gurun sahara.
Kawan, pada pintu nasib kita menggantungkan
hidup layaknya hiasan yang bergemerincing
Jika nantinya kita akan menjadi tua dan
mati, tentunya hanya tubuh kita yang terhempas olehnya
Dan jika kita harus berpisah, pasti
perpisahan yang indah akan terhidang sebagai santapan perjamuan terakhir kita.