Jumat, 14 Desember 2012

Takdir


Bersama jembut-jembut bapak yang rontok
Ibu sedang menyulamkan baju nasib untukku
Untuk anaknya yang tak akan pernah lahir
Sebagai seorang lelaki yang utuh

Mereka berdua tahu
Anaknya adalah kegelisahan yang urung
Dan kegembiraan yang sirna

Bapak tak pernah mencukur jembutnya
Sedang ibu tak pernah berhenti menyulam
Dan aku juga tak pernah rampung menjadi seorang perjaka

12/12/12

Rabu, 12 Desember 2012

Tersilam

; N.D. Vindriana

Di pantai itu matahari berlayar menepi
Pada tanjung yang tak juga karam
Juga rasa sakit yang kau lipat dalam senyum
Yang kau sebut itu
-kenangan
Menjelma kepiluan yang tak pernah usai

Sayang, kau tak usah memaksakan kepalsuan
Hidup adalah kesakitan yang tak pernah usai
Maka rubahlah semua kenangan menjadi bayangan

12/12/12

Selasa, 11 Desember 2012

Balada Perpisahan

Ketika sunyi siap menepi dalam tangis yang hampir usai, kau serupa sauh yang tak hendak diangkat
Lalu waktu membatu di sekitarmu menepis fajar yang hendak menampakkan senyum keemasannya.
Kita tak pernah benar-benar menjadi tua kawan, kita juga tak penah benar-benar akan mati
Yang terlalui hanyalah semua yang hanya akan menjadi masa lalu, dan kita akan tetap hidup pada masa lalu.
Hidup sebagai kenangan yang tak pernah tidur dan tak pernah bangun, bagai mendung yang menyimpan hujan.
Menangislah, dan buang semua airmata itu lalu kita kemas semua kenangan dan masa lalu
Dan bersiaplah untuk melangkahkan kaki kita pada bab kehidupan yang lain, yang lebih kejam dari padang kurusetra dan lebih luas dari gurun sahara.
Kawan, pada pintu nasib kita menggantungkan hidup layaknya hiasan yang bergemerincing
Jika nantinya kita akan menjadi tua dan mati, tentunya hanya tubuh kita yang terhempas olehnya
Dan jika kita harus berpisah, pasti perpisahan yang indah akan terhidang sebagai santapan perjamuan terakhir kita.