Rabu, 09 Januari 2013

Laporan Utama Majalah Millenium Dalam Penerawangan*


Membaca judul Laporan Utama majalah Millenium edisi IX 2012 saya langsung mengerutkan kening. ‘Memetik Identitas Batik Jember’ itulah judul dari Laporan Utama majalah Millenium. Kenapa saya mengerutkan kening ketika membacanya, karena setahu saya, Jember adalah kota yang tidak mempunyai identitas budaya yang khusus apalagi yang berhubungan dengan kerajinan batik.

Saya pun melanjutkan membaca Laporan Utama yang ditulis oleh M. Afwan Fathul Barry itu sampai selesai. Pada paragraf awal atau sebut saja teras berita, dugaan saya mengenai Jember yang tidak punya identitas budaya berhubungan dengan batik mulai luntur sedikit demi sedikit. Afwan menjelaskan bahwa di Jember tak hanya ada JFC (Jember Fashion Carnival) dengan pakaian modern mereka, tapi masih ada kearifan lokal yang disimpan oleh kota yang terkenal dengan tembakaunya itu. Kearifan lokal ini salah satunya terwujud dalam batik khas Jember.

Membaca tulisan Afwan, mulai awal saya seperti diajak untuk berkeliling Jember. Banyak sekali nama daerah yang dia tuliskan di awal tulisannya. Sumberjambe, Sumberpakem, Ledokombo, Arjasa dan masih ada beberapa yang lain. Mungkin Afwan tak ingin membingungkan pembaca dengan menyebutkan banyak sekali nama daerah di Jember. Tapi dia ingin menceritakan perjalanan tim reportase Millenium yang menguras tenaga ketika mendatangi desa Sumberpakem tempat dimana kerajinan batik khas Jember dibuat.

Selanjutnya yang ditulisakan Afwan adalah sejarah singkat batik khas Jember. Ada dua narasumber yang disebutkan dalam sub judul ‘Segurat Sejarah’ yaitu Mawardi dan Haji Maskuri. Mawardi dan H. Maskuri adalah dua orang yang mempunyai unit dagang batik di desa Sumberpakem, mereka berdua adalah generasi penerus usaha batik warisan dari orangtua mereka. Mawardi misalnya, dia memulai bisnis batiknya sejak 1930-an yang dia terima dari sang nenek sedangkan H. Maskuri adalah generasi ketiga dari usaha batik keluarganya yang berdiri sejak 1935.

Ciri khas batik Jember juga menjadi pembahasan dalam Laporan Utama majalah Millenium ini. Jember sebagai kota yang dikenal dengan produksi tembakaunya berpengaruh pada produk batiknya. Dalam motif batik hasil produksi Mawardi, daun tembakau menjadi motif yang menawan. Tak hanya daun tembakau yang menjadi pilihan motif bagi batik produksi Mawardi. Bunga kakao, buah naga, pohon bambu, pisang, cerutu dan masih banyak pilihan motif yang dihasilkan dalam batik produksi Mawardi.

Afwan juga menuliskan perbedaan batik khas Jember dengan batik keratonan. Batik keratonan adalah batik yang sudah paten tidak boleh dirubah motifnya karena sudah mempunyai pakem tersendiri, juga warna batiknya yang selalu coklat. Sedangkan batik khas Jember tidak mempunyai pakem apapun. Warna dan motif batik khas Jember bisa dibuat sesuai pesanan sang pembeli.

Selain dua pengusaha batik yang menjadi narasumber dalam tulisan Afwan ini, ada juga Ridwan kepala desa Sumberpakem dan Sulistyowati, salah seorang pekerja di unit dagang milik Mawardi. Ridwan menjelaskan geliat batik Jember khususnya di desa Sumberpakem.

Ditulis dalam Laporan Utama itu bahwa dua unit kerja yang memproduksi batik di desa Sumberpakem itu lebih memilih mempekerjakan masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya, karena alasan kesejahteraan lingkungan dimana unit kerja itu berada. Penduduk desa Sumberpakem, terutama yang perempuan, sudah menjadikan industri batik itu sebagai pintu nasib. Seperti halnya Sulistyowati yang diwawancarai oleh tim Millenium untuk data dalam Laporan Utama majalah meraka itu.

Selanjutnya yang dibahas dalam Laporan Utama ini adalah omzet usaha batik Jember. Data-data yang diperoleh oleh tim Millenium adalah data hasil penjualan unit dagang milik Mawardi dan H. Maskuri. Kedua unit dagang yang berada di desa Sumberpakem itu kira-kira sebulan dapat meraup pendapatan kotor sebesar Rp. 37.500.000. Tapi walaupun omzet besar didapatkan oleh produsen batik Jember, perhatian pemerintahan tidak menjadi lebih besar. Dalam tulisan Afwan dijelaskan bahwa banyak kendala yang dihadapi oleh unit dagang yang ada di desa Sumberpakem, salah satunya adalah akses yang sulit dijangkau untuk mendapatkan batik khas jember.

Dua pendapat yang berbeda juga dituliskan oleh Afwan dalam Laporan Utamanya. Pertama, pendapat dari H. Maskuri yang menganggap kurangnya perhatian pemerintah daerah pada batik khas Jember. Kedua, pendapat Mawardi yang mengungkapkan bahwa perhatian dari pemerintah daerah sudah cukup dengan membantu mempromosikan, bantuan modal dan berbagai pelatihan.

Pendapat dari pihak pemerintah juga dimasukkan dalam Laporan Utama majalah Millenium ini, yaitu pendapat dari Kepala Industri, Logam, Mesin, Kimia, Aneka (ILMKA) dan Kepala Kantor Pariwisata.

Laporan Utama Majalah Millenium edisi IX 2012 ini penuh dengan data tapi sayangnya banyak sekali bahasa yang membuat saya harus berkali-kali mengulang membacanya. Bahasa yang digunakan oleh Afwan dalam beberapa paragraf mengecoh saya karena munculnya ambiguitas bahasa. Seperti dalam sub judul ‘Segurat Sejarah’ paragraf ke tiga “…kami mendapati sosok dari balik kaca hitam di dalam rumah sedang menuju ke arah kami.” Saya bingung membaca kalimat ini dan sampai saya menuliskan sinopsis ini saya belum mengerti apa maksud dari kalimat ini.

Masih banyak lagi kalimat yang membuat saya merasa menjadi seseorang yang tidak mengenal kalimat dan frasa. Hal lain yang menurut saya ganjil adalah penulisan umur narasumber yang hanya ada pana nama Sulistyowati, sedangkan yang lain; Mawardi, H. Maskuri tidak diberi keterangan umur. Juga penulisan jam yang tidak diikuti oleh keterangan waktu bagian mana. Penulisan beberapa kata yang dimiringkan juga kurang diteliti, ada dua kata speedometer dan yang diketik miring hanya satu. Dan banyak juga salah ketik yang terjadi.

Selain beberapa kekurangan dalam penulisan ada juga hal lain yang mengganggu saya yaitu caption foto yang fontnya sama dengan font tulisan. Menurut saya font caption foto seharusnya lebih kecil daripada font tulisan utama. Tingkat kehitaman foto juga sepertinya kurang diperhatikan karena ada beberapa foto yang terlalu gelap dipasang dalam Laporan Utama majalah Millenium.

Penempatan paragraf menurut saya juga kurang rapi, ada beberapa paragraf yang terpotong ke halaman selanjutnya dan hanya meninggalkan satu baris dalam paragraf sebelumnya. Contohnya pada sub judul ‘Segurat Sejarah’ paragraf ke lima. Hanya satu baris yang tertinggal pada halaman 9 yaitu “Sekitar tahun 1999, Mawardi tergerak untuk…” saya merasa terganggu dengan itu. Tidak hanya pada sub judul ‘Segurat Sejarah’, banyak sekali kasus yang sama pada tulisan Afwan. Contoh lain ada pada sub judul pertama ‘Menuju Sumberpakem’ paragraf ke tiga, ada beberapa kata yang nggandol  di kolom paragraf kedua, dan itu membuat saya kurang nyaman dalam membaca.

Terakhir adalah judul Laporan Utama yang ditulis Afwan ‘Memetik Identitas Batik Jember’. Dalam tulisan Afwan, saya tidak menemukan isu atau tema yang berhubungan dengan identitas Jember, yang saya temukan malah produsen batik khas Jember yang kurang dikenal oleh masyarakat Jember sendiri.

Tapi lepas dari semua itu Laporan Utama Majalah Millenium edisi IX 2012 ini cukup memberikan informasi pada pembacanya dengan alur yang ditata rapi oleh penulisnya; Afwan Fathul Barry.[]

*)Tulisan ini menjadi juara 2 dalam lomba sinopsis laporan utama Majalah Millenium edisi IX 2012

Kamis, 27 Desember 2012

Diyah


“...ada yang tetap tidak terucapkan, sebelum pada akhirnya kita menyerah.”(Chairil)

Sore ini setelah hujan, aku pulang ke sekret dengan memakai sepeda yang kau titipkan atau lebih bisa ku sebut kau hibahkan untukku. Sepeda yang dulu sempat kita naiki bersama manuju alun-alun kota Jember yang begitu riuh di hari minggu. Sepeda yang mengantar kita menuju tempat menggambar bersama beberapa teman kita yang lain. Sudah lama sekali peristiwa itu sepertinya, tapi semakin lekat di ingatanku ketika kau sekarang akan menetap di kota yang lain. Aku menulis catatan ini sepulangnya aku dari warung bulek, sembari membuka-buka lagi file gambarmu yang masih tersimpan rapi di laptopku, yang kita terbitkan bersama teman-teman kita sesama penyuka gambar.

2010 yang basah. Aku membayangkan mempunyai seorang sahabat yang suka menggambar sepertiku, dan Mas Kikik mempertemukan kita pertama kali di warung bulek. Mulai dari situ ikatan batin kita mulai terjalin. Kita menjadi sering mengobrol dan menggambar, juga membangun angan membuat sebuah media yang memuat gambar-gambar kita. Sehingga terciptalah Babebo Zine yang kita lahirkan bersama teman-teman penyuka gambar yang lain. Afwan, Umi, Diki, aku dan tentunya kau.

Kau dan Umi adalah dua wanita yang ada dalam tim menggambar kita dan tak semua dari kita bisa selalu bersama saat itu. Kita hanya sesekali menggambar bersama karena banyak kesibukan yang mencipta tembok yang kokoh. Yang tak pernah kulupakan darimu adalah aksen jawa yang kuat, juga cara berdandanmu yang tidak seperti wanita lain.

Tapi itu dulu, di masa kita masih sering menikmati malam di warung kopi pinggir jalan dengan obrolan yang tak jelas. Setelahnya aku mulai sibuk, juga teman-teman yang lain. Kau sering sekali mengirim pesan padaku hanya untuk sekedar mengajak ngobrol dan menemu malam di warung kopi, tapi selalu ada alasan yang menggagalkan rencana kita. Intetitas menggambar kita mulai berkurang, bahkan aku menyebutnya tidak ada perkembangan.

Andai kata kita tak pernah bertemu, tak pernah menggambar bareng, tak pernah gila bersama, jujur saja aku tidak akan menuliskan catatan ini dan kau hanya menjadi seberkas cahaya yang sekejap hilang bagiku. Tapi mungkin karena itulah semuanya menjadi berbeda. Ketika semua manusia modern menuhankan benda dan penampilan menjadi ukuran manusia, juga hidup yang harganya adalah kesenangan. Maka, kita mencipta semacam upaya untuk melawan semua kehidupan modern yang ranum itu dengan persahabatan yang ramai, yang abai pada semua kepentingan, dan hidup dengan saling mengulurkan tangan.

Di penghujung tahun ini, Desember 2012, di malam yang tak pernah lepas dari dingin, kau datang ke sekretariat LPMS tempatku menemu teduh. Kita bertemu dan seolah semuanya sedang baik-baik saja. Kau menjabat tanganku dengan wajah yang sepertinya mengucap perpisahan, mata yang siap menanggalkan airmata. Ternyata kedatanganmu adalah sebuah bentuk awal dari perpisahan. Kau mengatakan akan pulang dan tidak akan kembali ke Jember lagi karena surat pengajuan pengunduran dirimu sudah diterima oleh fakultas. Entah apakah memang hidup benar-benar kejam sehingga kau memutuskan untuk berhenti kuliah.

Seperti seorang bayi yang meninggal sebelum dilahirkan, kita tahu hidup selalu meminta permakluman, meyatimkan segala yang tak selesai dan bersiap menghadapi situasi selanjutnya. Kau tak menjelaskan alasanmu dengan rigid dan aku tak mempunyai hak menahanmu untuk tetap ada di Jember. Aku hanya seorang sahabat yang harus menghargai semua keputusanmu.

Diyah, atau lebih akrab kau ku panggil Nyu, panggilan yang kita gunakan setiap kali bertemu. Kau tentu tahu hidup kerap menjadi medan pertempuran yang menciptakan kekalahan dan kemenangan, juga sakit yang tak tertahankan. Tapi hidup juga riwayat tentang mencipta montase untuk keadaan di depannya. Dan di sanalah manusia mesti menentukan segalanya dengan kawanan titik dan koma.

Pagi itu, kau menyempatkan menikmati kopi bersamaku di warung bulek. Warung yang mempertemukan kita, yang mencipta segala riuh redan senyuman kita. Kita membicarakan banyak hal, tentang kuliah, tentang teman-teman kita, tentang dosen yang serupa Tuhan, dan pastinya tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu. Setelah itu kau titipkan sepeda ontelmu padaku, kau menyuruhku untuk menjaganya. Sepeda yang telah menyimpan banyak kenangan untukmu dan setelah ini akan juga menyimpan kenangan tentangmu untukku, mungkin juga sepeda ini akan meminjamkan harapan padaku bahwa kau akan sesekali mengunjungi Jember untuk bertemu kawan-kawanmu yang akan merindukanmu.

Ah, Nyu, jika kau masih punya waktu untuk sekedar berbosa-basi mengirim pesan singkat padaku atau membalas pesan singkatku pastinya aku akan sangat bahagia. Akan ku jaga sepeda ini Nyu, ku jaga seperti menjaga persahabatan kita yang akan menjadi kesunyian. 

Minggu, 16 Desember 2012

Perempuanku, Airmata Itu…



Saya lupa kapan terakhir kali saya meneteskan airmata bahagia, atau bahkan saya sudah lupa bagaimana menangisi kebahagiaan. Tapi malam ini (sabtu, 15/12/12) entah kenapa airmata begitu mudah menderas dari kelopak mata ketika memandang mata seseorang yang ada di depanku, dekat sekali di depanku.

Mata itu adalah mata seorang wanita yang begitu lembut, mata seorang penerjemah luka, saya tahu itu. Tapi disitulah kenapa saya begitu menyayanginya. Saya seorang yang bisa membaca luka itu dari pandangannya. Saya juga tahu bahwa dia adalah wanita yang begitu menghargai pasangannya, dan tentunya saya begitu beruntung menjadi pasangannya.

Malam ini begitu berbeda dibanding malam-malam sebelumnya ketika kami bersama. Malam itu saya menjadi seorang yang benar-benar cengeng, saya menangis, saya seorang lelaki yang tak bisa menahan airmata. Dia bertanya tentang satu kalimat yang ada dalam surat yang saya tuliskan untuknya. “perasaan yang begitu aneh setelah membaca postingan terakhir di blogmu.” Dan saya tak bisa menjawabnya karena saya tak bisa menerjemahkan perasaan aneh itu dalam kata, ah kenapa saya begitu melankolis. Pada saat itu saya hanya bisa memandang matanya begitu dalam dan tanpa saya sadari airmata sudah merembes di sekitar mata saya. Saya malu benar-benar malu padanya, tapi itu bukan airmata sedih melainkan airmata karena saya begitu bahagia memilikinya. Saya bahagia bisa menjadi seorang yang menggandeng tangannya dan membelai lembut rambutnya.

Malam ini saya bisa menangis bahagia karenanya, karena seorang perempuan yang saya sayangi. Terimakasih sayang, terima kasih karena kau, cinta menjadi sebuah penghargaan yang begitu besar. Karena kau juga airmata ini menjadi sebuah kenangan yang indah dengan rasa sayang yang saya percayai begitu besar.

Saya yakin dia tentunya begitu menyayangi saya dengan pandangan mata yang begitu dalam itu dan semua perasaan aneh itu pun segera hilang. Saya yakin dan percaya bahwa dia adalah pasangan yang begitu hebat, dia adalah perempuan yang kuat, saya percaya itu. Saya ingin merasakan kehidupan masa depan dengannya, saya tidak hanya berangan tapi saya akan  berusaha. Tak ada luka lagi bagi keterasingan dalam hidup ini. Dan pada malam yang sama saya menuliskan sebuah sajak, sehabis menyeruput kopi di cak ipul. Sajak tentang keterasingan dan tentunya tentang kehidupan.


Hidup

Lalu kita hirup aroma kehidupan, bersama ngilu nasib
Juga berjuntai-juntai kenangan
Yang tak pernah habis di makan hari
Atau bahkan tahun

Namun tak ada yang lebih kejam
Selain bersanding dengan kesalahan
Juga kelindan penyesalan

Hidup tak perlu melulu mendaki gelisah
Sebab setelahnya adalah sajak-sajak yang kelam
Yang kita panggil sebagai
-keterasingan

11/12/12

Ah, pasanganku tentunya kita akan berjalan bersama, bergandengan tangan dalam keterasingan hidup ini. Saya yakin hidup masih sebagai kesunyian masing-masing. Juga airmata ini adalah kemenangan yang menghapus segala perasaan aneh yang kurasakan. Sekali lagi terima kasih perempuanku.