Sabtu, 30 April 2011

Revolusi Pengharapan(The Revolution of Hope)

Judul                       : Revolusi Pengharapan(The Revolution of Hope)
Pengarang              : Erich Fromm
Penerbit                  : Pelangi Cendekia
Tahun Penerbit      : 2007
Peresensi                : Sadam Husaen Mohammad


Apa yang dimaksudkan menjadi manusia modern yang humanis? Mungkin  begitu kira-kira yang ingin disampaikan oleh Erich Fomm (EF) melalui buku Revolusi Pengharapan ini.  Melalui ilmu pengetahuan manusia begitu sukses menguasai alam. Kemudian semangat manusia untuk memaknai dirinya sendiri berpusat pada kebutuhan teknis dan materi akhirnya manusia kehilangan spiritualitas dan keyakinan, manusia seperti menemukan Tuhan yang baru yaitu “kalkulasi impersonal” atau semua yang dapat dikalkulasikan, diramalkan, dan difaktualisasikan sehingga mesin dijadikan sebagai berhala dan pada akhirnya menentukan pemikiran manusia.

Mungkin sekarang kita sedang menghadapi  sebuah ancaman. Bukan ancaman yang remeh dan bukan juga komunisme ataupun fasisme melainkan masyarakat yang dimesinkan secara total untuk memproduksi dan mengkonsumsi. Manusia diberi makan dan hiburan secara pasif dan nyaris tidak punya perasaan, bahkan untuk mengungkapkan kesedihan dan kegembiraan pun sulit. Maka di sini EF menolak semua persepsi dan perspektif tentang pengharapan yang di setir oleh mesin dan kaum borjuis itu. Menurut EF pengharapan bukanlah hidup menghambur-hamburkan uang,serakah dan tak bermartabat tapi pengharapan adalah hidup yang disertai pengorbanan untuk mengupayakan kualitatif dan produktif sebuah kehidupan yang berkecukupan dan wajar agar dapat selamat di kehidupan.

Manusia menjadi tokoh fiksi dalam sebuah novel yang tak pernah jelas judulnya. Novel yang penuh dusta. Dusta kata-kata, dusta gerak gerik mata, dan dusta ekpresi wajah. Manusia inginnya selalu tampil dengan kesibukannya sendiri tanpa sadar mereka tidak menghasilkan apa-apa atau bisa disebut pasif. Mereka ingin dipahami, dipelihara dan dipuji. EF tidak setuju semua itu disebut sebagai proses pengharapan, berharapan bukanlah kesibukan yang akan mendapat pujian atau penghormatan. Pengharapan itu bersumber dari kekokohan batin yang bersentuhan secara erat dengan visi kehidupan yang prospektif.
Pada bab terakhir buku ini (BAB VI) EF menawarkan beberapa perubahan yang mendasar untuk menyelamatkan manusia dari modernisasi, antara lain perubahan pola produksi dan konsumsi sehingga aktivitas ekonomi menjadi sarana pemekaran dan perkembanagan manusia. Transformasi manusia yang sebelumya manusia hanya menjadi masyarakat yang pasif berubah menjadi masyarakat yang aktif, kritis dan bertanggung jawab. Dan suatu revolusi kultural yang didasari oleh gerakan humanisme radikal yang mencakup banyak ideologi yang berbeda dan kelompok-kelompok sosial. Dan semua itu untuk mendesain sebuah revolusi pengharapan yang bermuara pada humanisasi teknologi .
Manusia modern yang meletakkan teknologi sebagai pelayan bagi cita-cita humanis itu yang diinginkan oleh EF, tetapi di buku ini EF kurang  jeli melihat bahwa masyarakat  seluruh dunia selain butuh demokrasi dan humanisasi mereka juga membutuhkan peran birokrasi dan teknokrasi walaupun disamping itu ada rasa suka dan tidak suka pada diri mereka. Apabila EF bisa meramu semua antara birokrasi, teknokrasi, humanisasi dan demokrasi menjadi satu mungkin kehidupan masyarakat modern yang lebih humanis akan bisa dinikmati.
Tetapi buku revolusi pengharapan ini sangat layak untuk dibaca, karena cita-cita yang diinginkan semua Negara berawal dari pengharapan dan itu dibedah di sini oleh EF agar kita mengerti bagaimana menjadi masyarakat modern yang semakin manusiawi.[]

Poetry Hujan: Aku Melamuni Hujan

Aku melamuni hujan. .
Karna rintiknya mendatangkan kantuk, membuatku bergelut dalam hangatnya selimut
Aku melamuni hujan. .
Karna rintiknya menemani kesendirianku dalam kamar yang membuatku tenggelam dalam tumpukan senandung hidup
Aku melamuni hujan. .
Karna rintiknya mendinginkan hatiku yang sedang menggigil dalam panas amarah
Aku melamuni hujan. .
Karna rintiknya membunuhku

2009

(gambar dari google)

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Mari Membaca

"sadam sudah pintar, dia tidak perlu ikut diskusi seperti ini"
Ya seperti itu tepatnya kata-kata teman saya entah mengejek atau memuji, tapi sepertinya cenderung mengejek dan saya tahu itu. Memang saya terlalu bodoh untuk diejek, karena saya tak menganggap kata-kata teman saya tadi adalah sebuah ejekan. Mungkin tepatnya tidak disebut mengejek ya, menyindir sebenarnya, dan itu sudah sering saya dapatkan dari banyak sekali orang saya temui. Orang yang saya temui notabene adalah penggila membaca dan mempunyai pengetahuan luas, sedangkan saya hanya seseorang yang jarang sekali membaca, karena itulah saya selalu mendapat sindiran, "tahu sendirikan bagaimana rengekan yang dilandasi budaya literer dan tidak?" kalimat itu juga tidak langsung menohok kuping saya, karena saya selalu menrengek tanpa dilandasi oleh budaya literer. Budaya literer utau budaya membaca di Indonesia memang tak begitu bergeliat, karena banyak orang yang bilang kalau bangsa kita ini bangsa lisan atau oral, tapi kalau hanya lisan tanpa ada referensi dari membaca pastinya itu bisa jadi tidak valid. maka dari itu sekarang saya mulai mencoba intens untuk membaca dan memastikan bahwa kata-kata saya bisa dibuktikan dari hasil membaca saya.
Mungkin budaya membaca di Indonesia kurang digandrungi, karena lebih banyak media lain yang menjajikan kenikmatan lain daripada membaca, contohnya saja sekarang ada facebook, twitter, juga ada game online, memang dalam mengoprasikannya kita juga butuh membaca tapi sepertinya itu hanya menjadi panduan saja. Tidak seperti membaca buku yang tebalnya masa ampun. Ya membudayakan literasi memang agak sulit tapi sedikit demi sedikit pasti akn merubah segalanya, mulai dari kita dulu untuk merubah semuanya. Mari membaca!