Minggu, 09 September 2012

Suka Mendayu-Dayu*

Barangkali efek rumah kaca benar dengan lagunya yang berjudu di udara saat rezim soeharto dulu, tapi keadaan sekarang berbeda, semua bebas menyerukan pendapat tanpa dihadapkan kepada teror dan ancaman yang lainnya, tapi kebebasan itu sepertinya hanya sia-sia karena pemerintah sekarang hanya menampungnya dan sepertinya sulit untuk merealisasikannya.
Efek rumah kaca mungkin ingin menyegarkan kembali pikiran pemerintahan sekarang dengan lagu-lagu mereka. Efek rumah kaca adalah band indie yang sudah atau mungkin sedikit terkenal di kalangan remaja. Band yang digawangi oleh cholil mahmud dan kawan-kawan ini memang sudah lama terbentuk, tapi sepertinya mereka kurang digandrungi oleh remaja zaman sekarang karena lirik lagu mereka yang kurang mendayu-dayu seperti yng diinginkan remaja jaman sekarang
Aku sering di ancam juga teror mencekam\\Kerap ku di singkirkan sampai di mana kapan\\Ku bisa tenggelam di lautan aku bisa di racun di udara aku bisa terbunuh di trotoar jalan\\Tapi aku tak pernah mati tak akan berhenti
Kurang lebih seperti itulah lirik lagu di udara karya efek rumah kaca. Band-band indie yang mendendangan lagu seperti ERK agaknya sulit dinikmati oleh orang-orang jaman sekarang khususnya remaja jaman sekarang yang menginginkan lagu yang mendayu-dayu tentang cinta, yang mendendangkan perselingkuhan dan masalah cinta lainnya.
Mungkin remaja jaman sekarang hanya menyukai lagu-lagu cinta yang membuat kuping geli bila mendengarnya. Bagaimana tidak geli bila mendengarkan lagu-lagu band jaman sekarang ini yang menceritakan bahwa selingkuh itu indah dan begini dan begitu. Tidak bermaksud menghakimi band-band yang mendendangkan lagu perselingkuhan, tapi sepertinya remaja zaman sekarang seperti tersihir dengan cerita yang tidak patut ditiru dalam bungkusan nada-nada yang mendayu-dayu. Dan yang membuatnya menjadi aneh adalah remaja zaman sekarang mengatakan bahwa lagu itu sama seperti nasib mereka.
Sebagian remaja yang mengatakan bahwa lagu itu sama seperti nasib mereka itu mungkin salah, yang bisa diterima nalar mungkin sebaliknya, bahwa mereka yang terpengaruh oleh lagu itu. Yang dicari remaja sekarang bukan lagi lagu yang membawa misi kebebasan tapi lagu yang membawa misi bahwa selingkuh tiu menyenangkan dan bercinta adalah segala-galanya di dunia ini.
Band-band yang membawakan lagu perselingkuhan dan percintaan ini memang berhasil menggedor pagar permusikan indonesia, tapi mereka tidak menengok apa akibat dari lirik-lirik lagu mereka terhadap pendengarnya, apalagi terhadap remaja yang masih labil pemikirannya. Remaja-remaja itu mungkin saja bisa menirukan lirik lagu perselingkuhan itu dengan bangganya, padahal dia tahu bahwa hal itu bisa di sebut “nakal”, tapi karena lagu yang mereka dengarka dan mereka tiru adalah lagu band yang sedang digandrungi saat ini, mereka mungkin tidak memikirkan apakah efeknya untuk mereka.
Zaman mungkin memang mempengaruhi selera para remaja, tapi apakah zaman juga telah mengubah jalan pikiran mereka? Mungkin memang iya, karena dalam kehidupan remaja sekarang permasalahan cinta ada dalam peringkat paling atas. Seperti halnya lagu cinta yang menduduki peringkat paling atas dalam deretan lagu paling disukai remaja.
Sementara remaja sedang sibuk dengan lagu-lagu mendayu yang mereka sukai, di belakang mereka pasar siap menerkam mereka dengan produk-produk lain yang kurang lebih akan merebut setengah hati mereka. Pasar memang tak pernah kekurangan cara untuk memikat konsumen mereka, label musik pun termasuk di dalamnya.
Barangkali efek rumah kaca, marjinal, dan the upstairs benar dengan mempertahankan ideologi mereka, karena mereka akan tetap hidup dalam ideologi mereka walaupun pasar kurang menerima lagu-lagu mereka. Tapi mereka mungkin telah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka tetap mempertahankan ideologi mereka, maka mereka berani mempertahankan tanpa menoleh ke belakang.
Di saat para remaja asik mendengarkan lagu yang menyihir mereka, indonesia sedang dirasuki bencana.



*Tulisan ini dimuat di rubrik Horizon, Radar Surabaya Minggu 5 Agustus 2012